Nice to see you again, temann..
Apa kabar kalian semuaaa??? :D
Baik kan ya pastinyaaa.. Kalo yang ga baik - baik aja, tenang.... You just have a bad day not a bad life... :)
Mari merapat semuanyaa... Hari ini kita bakal belajar bersama dari seorang tentara dan koinnya... :)
Let's read....
Sebuah kisah inspiratif terjadi di
propinsi Ciang Si, Kota Nan Chang tahun 1938. Saat itu masa peperangan
dimana Ciang Kai Sek menjabat sebagai komandan laskar di Nan Chang.
Di
waktu luang, banyak tentara berbelanja keperluan sehari². Saat itu mata
uang yang digunakan adalah Yen. Kaum wanita berusia lanjut dan lemah
berjajaran di sepanjang jalan menjual handuk dan kaos kaki untuk
keperluan tentara.
Suatu hari seorang nenek menangis terisak².
Rupanya seseorang telah membeli banyak sekali dagangannya dengan
kepingan uang Yen palsu. Ketika nenek itu sadar uang itu palsu, si
pembeli sudah lenyap entah kemana.
Kebetulan lewat seorang tentara
yang baru gajian. Melihat sang nenek sangat sedih, ia menghiburnya.
“Tak usah sedih Nek, gaji saya cukup. Tukarkan uang palsumu kepada saya sebagai kenang²an. Nah, ini ambillah. Semoga dapat menjadi modal usahamu kelak.”
“Mana boleh? Mana mungkin saya menerima sementara anda
yang mengorbankan uangmu”, Si Nenek bersikeras tidak mau menerima
tawaran si tentara. Tapi karena tak tega menolak ketulusannya, akhirnya
ia menerima juga dengan ucapan terima kasih yang mendalam.
Selang
beberapa bulan si Tentara berdinas kembali ke kota Nan Chang dan mencari
Nenek yang malang itu. Dia berkata bahwa kepingan Yen palsu itu telah
menyelamatkan nyawanya.
Ceritanya ketika dia berada di barisan
depan dalam medan pertempuran, tiba-tiba sebuah peluru menghantam
dadanya. “Tamat sudah kali ini,” pikirnya hingga pingsan karena
ketakutan.
Tapi begitu mata dibuka, sakitnya tidak terasa.
Dirabanya tapi tak ada darah sedikitpun. Waktu menyentuh kepingan logam
yang berada di kantong kirinya ternyata kepingan uang Yen palsu itu
sudah cekung oleh peluru.
Well... Apa yang bisa teman - teman petik dari kisah sederhana di atas? :)
Kalo boleh saya men-share-kan pikiran saya, cerita sederhana diatas tadi memberi banyak sisi pelajaran, tidak hanya dapat memberikan satu pesan satu saja, tapi banyak. :)
Yang pertama, terkadang dalam hidup kita ini kita sering mengalami yang namanya ditipu / dibohongi. Ya kan? Adanya ketidakjujuran. :) Sebenarnya, ketidakjujuran yang ada disekeliling kita bisa menjadi alat untuk menjatuhkan atau justru alat untuk belajar. Yang dimaksud menjadi alat yang menjatuhkan adalah ketika kita sedang berada dalam posisi 'kena tipu' dan kita menanggapi hal tersebut dengan kemarahan yang tidak akan berhenti sebelum kita mendapat kebenaran atau keadilan, maka tanggapan yang menjadi tingkah laku kita adalah alat yang menjatuhkan kita sendiri. Mengapa menjatuhkan diri kita sendiri? Karena secara tidak langsung, kita dikuasai oleh amarah kita sendiri. Artinya, kita sudah gagal terlebih dahulu jika kita ada didalam medan perang. :) Memang boleh saja kita menuntut kebenaran terungkap atau keadilan terjadi dari ketidakjujuran yang kita alami, tetapi terkadang tidak semua hal yang tidak jujur itu harus atau menjadi kewajiban untuk diungkap. Ketika kita tidak dapat mengungkap, justru kita bisa tahu bahwa apa yang kita alami (ketidakjujuran) bisa saja merupakan ujian bagi pribadi kita masing - masing. Dan soal ungkap mengungkap, kalian pernah dengar tidak suatu kalimat yang berkata," kebenaran pasti terungkap". See? :) Tunggu saja, yang namanya keburukan tidak akan bertahan untuk selamanya. :)
Yang kedua, setiap perbuatan baik ataupun jahat pasti ada akibatnya. :) Bisa akibat yang menyenangkan, bisa juga akibat yang tidak menyenangkan. Nah, tinggal kalian pilih saja kalau memang mau akibat yang menyenangkan tentu kalian tahu perbuatan seperti apa yang harus dilakukan. :) Tapi bukan akibat itulah yang menjadi inti pesan yang kedua. Seringkali beberapa diantara kita mungkin ada yang berpikir sepintas atau memang benar - benar dipikirkan bahwa "kita sudah sering kok berbuat baik, tapi juga toh ga ada hasilnya". Ada kan yang seperti itu? Kalo ada yang ga pernah berpikiran seperti itu, BAGUS SEKALI. :D
Setiap perbuatan, dilihat dari sisi manapun, sebenarnya arti melakukan sesuatu itu seperti menabur. Kita berbuat, kita menabur benih. Dan kita semua tahu, bahwa yang namanya menabur benih itu yang akan terjadi adalah mendapat buah dari benih yang ditabur. Tapi, karena waktu yang belum matang atau memang belum cukup waktu untuk menghasilkan buah, bukan berarti kita tidak akan mendapat buahnya sama sekali. Menunggu, hal yang banyak orang bilang tidak menyenangkan, tetapi kesabaran yang ada seperti pupuk untuk buah yang dihasilkan. :) Dalam hidup ini, ada pentingnya untuk memupuk (bukan harta) kebajikan. :) " Yang namanya niat baik pasti mendatangkan hasil yang baik, kalau pilihan kita pada niat yang buruk, tak perlu ditebak, kita pun tahu apa hasil yang didapat kan? " :)
Itu yang bisa saya ambil dari kisah sederhana diatas, bagaimana dengan kalian? Adakah yang punya pelajaran yang berbeda? Mari di-share-kan bersama... :) Banyak pelajaran yang kita terima akan semakin banyak yang kita sebarkan dan tabur. :)
Semoga posting kali ini bisa bermanfaat buat siapa saja.. :)
God bless... :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar