Second posting.. :D
Lagi semangat - semangatnya temannn.. Sampe ga menyadari menulis ini di jam dua dini hari.. hahaha.. Lanjut sajaaaaa.. XD Nanggung,,
Rabu, 21 November yang lalu saya pergi berangkat ke Jogja malam hari. Tujuan ke jogja untuk membantu beberapa orang LSM dan teman saya untuk melakukan sebuah kegiatan sosial. Mereka membutuhkan tenaga lebih untuk kegiatan sosial itu, jadi datanglah tawaran pada saya lewat teman saya. Itu alasan dasar mengapa saya harus pergi ke jogja. =D
Disetiap perjalanan itu akan selalu ada sentilan - sentilun pelajaran lhoo.. Percaya ga teman - teman? =D
Kalau saya sih sangat setuju, karena semenjak saya mengalami kalimat yang baru saja saya utarakan, saya jadi selalu bersemangat setiap melakukan perjalanan kemanapun dan untuk kegiatan apapun, khususnya lebih menyenangkan lagi pergi bersama teman - teman. :D
Sesampainya di Jogja malam hari, kurang lebih setengah sepuluh malam. Saya dan beberapa teman menginap untuk istirahat dahulu. Esoknya kami mulai perjalanan kami dari Jombor ke Bantul. Mulailah sesampainya disana, kami melakukan kegiatan sosial yang ternyata katanya sudah sering dilakukan dalam sebulan sekali.
Saya bertemu seorang anak saat kegiatan sosial tersebut berlangsung. Namanya Rohmad. Dia adalah seorang anak yang mengalami katarak. Rohmad seorang anak tunggal. Ibu dan bapaknya melarangnya untuk dioperasi katarak karena trauma yang dialami oleh si bapak. Bapak Rohmad dulunya juga katarak, lalu operasi, dan gagal, jadi ketika tahu keadaan Rohmad, bapaknya melarang untuk dioperasi. :)
Kadang kita mengalami trauma atau pelajaran yang membuat kita sangat berhati - hati dalam bertindak atau mengambil keputusan. Tapi perlu digaris bawahi juga bahwa kita juga perlu paham, betul - betul paham apa yang barusan kita alami atau pelajari untuk kedepannya. Karena tidak semua pelajaran atau pengalaman yang memberi dampak buruk akan selalu mengajarkan yang buruk - buruk saja, selalu ada yang baik yang bisa diambil lalu menjadi sebuah pelajaran baru. Cuman, lebih sering ketika tahu oh ini adalah pelajaran yang tidak baik karena efek yang diberikan buruk lalu kita akan terus menutup mata untuk pelajaran tersebut jika ditemui kembali kedepannya. Padahal setiap pengalaman itu hasil yang diberikan selalu berbeda meski sama.
Tapi posting kali ini bukan membicarakan tentang trauma bapak si Rohmad tadi. =D hehehe
Saya sempat menanyakan kepada si Rohmad, apa yang kamu cita - citakan keitka menjadi besar nanti? Dia menjawab, "jadi dokter, dokter untuk semuanya". Cita - cita yang mulia. Saya selalu suka ketika anak - anak kecil menjawab pertanyaan cita - cita mereka, karena mereka seperti menabur bibit yang nanti suatu saat bisa menjadi pohon besar yang rindang untuk memberi kenyamanan siapapun yang berada disekitarnya. Cuman memang tidak semua anak - anak pada akhirnya menjadi seperti apa yang mereka alami, hal tersebut bergantung juga pada lingkungan mereka. Saya hanya senang saja mendenger jawaban anak - anak. Dan berdoa, mengamini memang itu yang nanti bisa tercapai.
Tapi dibalik bayangan saya yang habis senang mendengar jawaban apa cita - citanya saya kembali disadarkan dengan keterbatasan yang dimiliki untuk mencapai cita - citanya, tidak hanya itu, lingkungan yang tidak mendukung juga yang membuyarkan apa yang saya bayangkan. Saya sempat tanya pada diri sendiri, "Bagaimana bisa? Harus melakukan sesuatu kan untuk dapat membantu Rohmad mencapai cita - citanya?"
Sehari sebelum saya bertemu Rohmad, saya membaca salah satu artikel dari majalah yang mengatakan tentang "anak kita bukan milik kita".
Saya jadi punya keinginan supaya bapak si Rohmad tadi punya pemikiran seperti yang ada dalam artikel.
Dalam artikel ditulis bahwa seorang anak itu boleh ada didunia, tetapi tidak untuk menjadi pengikut jejak kita. Karena mereka punya jejak dan tujuan mereka sendiri. Sama dengan diri kita, punya jejak sendiri dan punya tujuan sendiri. Jejak dan tujuan hidup seseorang berbeda, tidak ada yang sama. :D Sama seperti Rohmad dan bapaknya. Rohmad memang anak bapaknya, dan selama masih dibawah umur apa yang harus dilakukan ada dibawah kendali bapaknya, hanya saja menurut saya memberi saran untuk tindakan apa yang dilakukan seseorang hanya karena kita tidak bisa mendapatkan itu atau sudah mengalami dan tahu apa yang harus dilakukan, namun seseungguhnya justru menjadi hambatan bagi orang tersebut maka pemberian saran tersebut tidak bijaksana untuk diri sendiri dan orang tersebut. :)
Sedih sekali ketika pulang pun, saya tidak dapat sedikit berbicara dengan bapak si Rohmad. Cuma bisa berharap saja bapaknya mau merubah keputusannya tidak mengijinkan Rohmad operasi. Jadi, walaupun Rohmad tidak dapat mencapai cita - citanya nanti setidaknya dia dapat melihat. :)
Anak kita bukan milik kita. Simplenya, apa yang diciptakan Tuhan bukan miliki kita seutuhnya. Mengarahkan boleh, membentuk dengan kreasi boleh, memberi perbedaan boleh, tapi bukan untuk dimiliki sepenuhnya. :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar