Jumat, 09 November 2012

Keterbatasan Menjadi Komitmen yang Gigih

Selamat soreeee semuaanyaaa... :D (pagi ato siang juga bolehhh kondisi dimana kalian membaca posting ini). hehehee

          Kembali sore ini saya terenyuh dengan suatu acara di televisi. Acara yang tidak perlu disebutkan tetapi acara yang selalu memberi pelajaran buat saya. :) Dan dengan hobi saya yang suka men-sharing-kan segala yang baik untuk dipelajari, jadi ijinkan saya untuk membagi kepada kalian semua. :) 


Sumber : http://radarlampung.co.id/read/radar/berita-foto/43825-dari-kepala-sekolah-pemulung-ke-motivator-mahasiswa


          Pak Mahmud adalah sosok yang disorot dalam acara televisi yang saya saksikan. Beliau adalah seorang mantan kepala sekolah. Beliau menjabat menjadi kepala sekolah dari tahun 2006 sampai tahun 2009. Yang unik yang saya tangkap begitu saya menyaksikan acara tv ini adalah Pak Mahmud, seorang mantan kepala sekolah justru menjadi pemulung dari tahun 2009 sampai saat ini. Beliau membiayai anaknya yang bisa lulus kuliah dari hasil memulung tersebut. 

          Presenter acara tersebut menanyakan, " Mengapa Pak Mahmud justru menjadi pemulung?" Beliau menceritakan kisahnya....
          Pada tahun 2006 beliau menjabat menjadi kepala sekolah, beliau mendapat pendapatan yang tidak sesuai atau bisa dibilang terlalu kecil, sehingga secara tidak langsung beliau harus mencari cara lain untuk dapat membiayai keluarganya, anaknya yang bersekolah. :) Maka merangkaplah pekerjaan Pak Mahmud sejak saat itu, kepala sekolah sekaligus pemulung. (WOW... Bukan tanggapan meremehkan yang justru keluar dalam pikiran saya, tetapi ini lho sosok pahlawan yang memang berjiwa besar, memiliki pemikiran yang luar biasa, dan hati yang mau bekerja keras). 
          Semuanya dilakukan untuk membuat dapur tetap menyala. :) Beliau berhenti menjadi kepala sekolah juga karena penyakit yang pernah beliau dapati, yaitu gejala amnesia dan penyakit keras. Lebih tepatnya beliau mengundurkan diri. Pekerjaan yang dilakukan setelah mengundurkan diri yaitu berkebun, dan mengumpulkan barang bekas. Secara tidak langsung beliau mengatakan, " Saya terenyuh, seperti tawuran yang terjadi dalam dunia pendidikan. Itu karena mereka tidak diberi kesempatan. Ada juga yang tida dikasih wadah untuk potensi yang dimiliki. Indonesia negara yang kaya, hutan, lautannya, sungguh bijak jika didiklah seorang yang muda itu untuk dapat mengolah dimana potensi mereka dalam negara ini."
          Saya selalu suka dengan pemikiran siapa saja yang seperti Pak Mahmud. Bukan karena hebat adanya pemikiran seperti itu, tapi pemikiran yang "gigih". Kita bisa lihat bahwa Pak Mahmud memiliki keterbatasan, beliau pernah mengalami penyakit keras, upah guru yang secara kondisi ekonomi keluarga itu tidak cukup membantu, dan kurangnya penghargaan atau dukungan. Tapi dibalik keterbatasan yang saya lihat dari apa yang dibagikan Pak Mahmud, justru muncul pemikiran yang luar biasa, pemikiran yang intinya adalah ingin bertahan, maka muncullah komitmen untuk tetap meneruskan hidup. Beliau sampai saat ini selain menjadi pemulung, juga menjadi motivator. Beberapa mahasiswa kerap kali datang ke rumah Pak Mahmud untuk mendapat ceramah motivasinya. Komitmen yang bangkit dari pemikiran sederhana Pak Mahmud, melahirkan kegigihan yang sungguh baik. 
          Pak Mahmud, bagi saya, adalah sosok guru (pahlawan) yang membuat segala keterbatasan menjadi komitmen yang gigih untuk dilakukan

Saya pun jadi berpikir, sejauh ini dalam hidup saya pribadi masih ada keterbatasan yang saya miliki. Muncul sebua pertanyaan dalam diri saya, yang  mungkin dapat menjadi refleksi bagi teman - teman juga, "Sudahkan dengan keterbatasan yang ada, saya memaksimalkan suatu usaha atau tindakan untuk membuat keterbatasan itu menjadi kekuatan atau kelebihan diri sendiri?" :)

How bout you? :)
Yuk mari, kita kembali lagi merefleksi diri kita (selalu) untuk kebaikan semuanya. :)


God blesssss...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar