Senin, 03 Juni 2013

Dari Tiga Ratus Rupiah Jadi Belajar

Malammm temann.. :)
Well.. how are you today?
:D

Yang pasti, mau merasakan senin yang melelahkan atau menyenangkan tetap semangat yaaa sampai menutup hari ini.. hehe

Well..
Siapa sih diantara kita yang pernah atau bahkan sering merasakan beli barang atau makanan dan ada kembalian dari apa yang kita beli, namun si penjual ga punya kembaliannya karena receh???

Misalnya nih.. Kita lagi brunch bareng.. Kita pilih menu Hakau, yang harganya Rp 12.900,00.. Kembaliannya Rp 2.100,00, karena uang yang kita bayarkan Rp 15.000,00. Tapi... begitu makanan diantarkan ke meja kita beserta kembaliannya Rp 100,00, si penjual mengatakan, "Maaf kami tidak ada seratus rupiahnya, ini kembalian duar ribunya. Terima kasih."

Pernah ga kalian mengalami seperti itu?
Dan kalau pernah atau sering, apa yang akan kalian lakukan?
Marah?
Komplain?
Membiarkan, anggap saja amal.
Atau bertanya kenapa tidak dicarikan kembaliannya.
Atau apa aja sih yang akan teman - teman lakukan?
:)


Kalau saya nih.. Sebelum kejadian kemarin minggu yang saya alami, saya akan membiarkan. Karena memang itu kebiasaan saya begitu menemukan pengalaman seperti cerita diatas. Kalau hanya seratu sampai sembilan ratus rupiah masih saya biarkan koq.. Tapi begitu seribu sampai jumlah diatasnya, yaa otomatis saya pasti akan meminta.. Saya berpikir bahwa, "gapapa deh kalo seratus atau dua tiga ratus, dll".. hehehe.. 

Itu sih jujur pemikiran saya.. :p

Kalo kamu?


Nah... 
Kemarin minggu, saya memiliki waktu dengan keluarga besar.. 
Pergi ke sebuah mall dan makan bersama..
Disaat saya selesai dan memesan makanan buat menenangkan si cutie belly, alias perut lapar saya, hanya beberapa menit mungkin kurang lebih sepuluh menitan, makanan yang saya pesan datang juga..

Si pelayan mengantarkan beserta dengan bill dan kembaliannya.. Kembalian yang diberikan kurang Rp 300,00 dan dia mengatakan, "Maaf mbak, kembaliannya kurang Rp 300,00 , kami tidak ada receh".

Saya yang sedang menikmati Tekwan yang saya pesan di resto lain, saya menerima bill dan kembalian yang diberikan dan mengangguk - angguk.. Lalu melanjutkan menikmati Tekwan yang saya pesan.

Belum saja saya memasukkan suapan untuk menikmati tekwan yang sedang saya nikmati, Oma saya yang duduk tepat disebelah saya langsung mengatakan dengan tegas, "Lho.. harus dicari.. Masa mengembalikan Rp 300,00 tidak bisa. Kami kurang Rp 100,00 saja diminat, masa kamu kurang Rp 300,00 ga mengembalikan?"

Shocked saya.. Jujur.. hehehe..
Soalnya saya bukan tipe orang yang tegas.

Puji Tuhan, si pelayan yang mengantarkan makanan dan kembalian hanya tersenyum dan permisi untuk kembali ke dapur..

Hmm..
Awalnya nih ya, saya pikir koq si Oma saya jadi seperti itu? Saya pikir itu tindakan yang buruk. 


Sampai kami selesai berbelanja bulanan, kami mengantar oma sampai dirumah, dan kami pun pulang ke rumah juga..


Sampainya dirumah.. saya tanya ke mama, "Ma, tadi oma koq seperti itu ya ke si pelayan?"
Hal di mall tadi itu masih kebawa dalam pikiran saya.. Dan saya juga jadi merasa tidak enak dengan si pelayan.

Tapiiiiii...
Hal yang ga disangka..
Mama saya menjawab seperti ini, "Iya.. Tadi itu kurang sopan.. Yang oma kamu memang seperti itu.. Kalo salah memang ditegur langsung, tapi memang caranya salah. Cuman.. Kamu tau ga kalau itu sebenarnya tindakan yang benar?"


Saya cuma diem sebentar sambil mikir, trs saya tanya, "Bener darimananya?" " Kan kasian si pelayan tadi, ga enak tau maa."

Trus mama jawab lagi, "Iu benar.. Jadi gini....."


Bla bla bla..

Saya bercakap dengan mama dan tidak mungkin diketik karena terlalu panjang.. hehehehee..

Intinya seperti ini teman - teman..

Memang benar jika kita harus melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Memberi apa yang seharusnya kita berikan. Meminta apa yang seharusnya menjadi milik kita. Sekarang tanyakan ini pada diri teman - teman.. Ketika teman - teman menjadi seorang penjual yang menjual bakpau seharga Rp 8.000,00. Tapi saya sebagai pembeli hanya punya Rp 7.500,00. Saya mau bakpau itu. Teman - teman harus memberikan. Tapi saya hanya punya uang segitu. Apakah teman - teman mau memberikan pada saya? Jawabannya pasti macam - macam. Karena kemurahan hati akhirnya memperbolehkan saya menikmati bakpau yang teman - teman jual. Tapi karena timbal balik dari penjualan dan pembelian, pasti teman - teman tidak akan  memberikan sebelum saya membayar sesuai harga yang diberikan. Betul bukan?

Ini artinya... KIta melakukan apa yang memang menjadi TANGGUNG JAWAB kita...
Bukan soal kemurahan hati..
Bukan soal timbal balik dalam berdagang.
Bukan soal ketegasan..
Bukan soal mendidik..
Bukan soal jumlahnya..
Tapi soal TANGGUNG JAWAB..


Si mama lanjut cerita seperti ini...
Mama kenal ibu pejabat yang setiap kali suka banget belanja di supermarket dimana mama juga belanja di situ..
Suatu saat di tempat kasir waktu lagi bersamaan membayar, Bu pejabat itu mengeluarkan sebungkus plastik putih yang isinya permen.. Permen itu diberikan si cewe yang bertugas dikasir.. 
Ibu pejabat itu bilang seperti ini, "Mbak.. Saya kan kurang membayar Rp 25.000,00. Ini permen yang saya dapat dari supermarket ini kalau supermarket ini tidak bisa mengembalikan kembalian kepada saya walaupun receh. Jadi kekurangan saya, juga ingin saya bayarkan dengan permen yang saya kumpulkan ini. Terima kasih."


Hmm... How? 
Apa pendapatmu teman - teman?
Tidak suka?
Suka?
Setuju?
Tidak setuju?


Setelah saya mendapat nasehat dari mama tadi, begitu dengar cerita ibu pejabat itu dari mama, saya akan berpendapat SETUJU SEKALI.

Karena memang, "Bertanggung jawab" untuk sesuatu yang memang harus kita lakukan adalah PENTING.. 

 Fiuhhh.. 
Ngetiknya panjang mbakbro masbro.. wkwkwkw..

Tapi begitulah yang saya ingin bagikan buat teman - teman semua.. hehehe


Semoga memberi pelajaran tersendiri ya dari kisah Rp 300,00 saya, sampai kisah si ibu pejabat tadi.. hehehe

Learning by doing teman.. XD


Tuhan memberkati....
See ya next posting.. hehe
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar