Sabtu, 29 Desember 2012

PAKU DI BAN

Helooo temann - teminnn..
Selamat malam menjelang pagii... hehehe..

Well... today is Saturday.. haha.. Where are you going, guys?
Asikny mlm minggu nanti saya ada janji dengan teman - teman lama.. Sudah tidak sabar untuk berkumpul berbagi cerita. Maklum, teman - teman yang saya maksud adalah teman - teman jaman SD, jarang bahkan belum pernah kami kumpul besar bersama seperti besok.. Semoga saja besok lancar - lancara untuk ketemuan.. hihihi.. XD So happy pokokkny!! haha


Selain share tentang ke-happy-an sayaa, saya juga belajar beberapa hal yang menampar pipi kiri dan kanan saya hari ini. Salah satunya bermulai dari paku yang tertancap di ban motor saya, si Beatie.. haha.. 

Jadiii.. Sore tadi kurang lebih jam 4, saya sudah siap - siap untuk pergi. Acara utama dan acara besar sih ada persekutuan di gereja, tapi karena jamnya jam setengah enam, dan jam 4 saya sudah bisa pergi saya berpikir untuk mampir - mampir. Beberapa tempat yang mau saya datangi terlebih dahulu toko buku, dan supermarket, karena ada beberapa hal yang harus saya beli dan butuhkan. :D Tapi eh tapi.. Ternyata oh ternyata.. Waktu saya memanaskan mesin motor saya si beatie, dan menjalankan untuk dikeluarkan ke halaman rumah, yang saya rasakan bannya seperti bocor. Lalu saya triak deh superhero saya yang luar biasa, alisa papa ayahanda tercinta.. haha.. 

Saya tanya, ada yang salah ga sih sama ban motor saya. Jujur saya belum pandai tentang mesin motor, dan tidak ingin mempelajari. Jadi saya tanya superhero yang ada dirumah saya. Ternyataaaa... Ada paku kecil tertancap di ban motor saya. LUAR BIASA. Mengapa?

Jujur, waktu saya tahu masih jam 4 saya senang luar biasa karena bisa mampir - mampir dan pergi dulu sebelum ke gereja, dan karena hal itu saya jadi terlalu fokus untuk menentukan. Antara mau ke mall dlu atau ke toko buku dulu. Saya jadi tidak menyiapkan hati untuk ke gereja dan fokus untuk apa yang akan saya lakukan nanti.. Jadi kalimat pernyataan yang kurang halus adalah "saya menomorduakan Tuhan".

Setelah saya tahu ada paku dan lebih jujur lagi saya tidak suka dengan bengkel dan segala hal yang berurusan dengan pembenahan motor alias servis motor. Emosi saya mulai terpancing. Saya jadi berpikir seperti ini, "Aduh... Koq ada paku sih... Jadi kepotong nih waktu yang ada untuk ke toko buku. Mana saya tidak tahu bengkel yang terdekat dimana dan jangan - jangan nanti lama untuk menambal ban yang bolong karena paku itu." Hmmmm... See? Itu yang saya pikirkan... Tapi Thanks God, saya coba pake yang namanya the power of positive thinking.. Saya coba menenangkan diri dan berpikir bahwa ini bukan masalah, tinggal kebengkel, menunggu, motor bisa jalan tanpa masalah, jika waktu cukup bisa ke toko buku dan batalkan ke mall, lalu ke gereja. Pemikiran sperti itu membantu saya untuk menenangkan diri dan bersikap lebih baik, plus tanpa emosi.. hahaha..

Sampai di sebuah bengkel, saya menunggu... menunggu... Sambil bbm an sama teman.. Akhirnya selesai.. Memakan kurang lebih setengah jam. Well, dan itu tepat pukul 5 sore. Jam persekutuan saya adalah setengah enam. Perjalanan ke gereja adalah setengah jam. DOENNGGG... Tidak jadi ke toko buku ataupun mall. Saya langsung ke gereja. 

Jam yang saya lihat dan bagaimana yang harus saya lakukan bukan suatu hal yang saya sesali kenapa harus seperti itu. Kenapa tidak sesuai dengan rencana saya. Tidak sama sekali disesali teman - teman.. hehehe.. Sungguh.. Tapi saya mendapat tamparan di pipi kiri saya. 

Kenapa saya anggap itu tamparan di pipi kiri saya? 
Karena saya menomorsatukan kesenangan dunia, dari kesenangan untuk ke gereja.
Paku di ban motor itu menjadi teguran buat saya, untuk lebih belajar mana yang prioritas dan mana yang tidak.  =D

Itu yang menjadi tamparan pertama saya dari pembelajaran hari ini teman - teman..
Biasa saja mungkin jika dianggap orang lain, tapi bermakna buat saya..

Lalu... pembelajaran selanjutnya... see the next posting.. heheheh.. :P 


Semoga sedikit sharing saya ini bisa memberi pelajaran atau tambahan pengalaman buat kalian yaa.. =D

God bless


Kamis, 27 Desember 2012

Cerita dan Ilustrasi #2 : MENEBANG POHON

Di kepulauan Salomons yang terletak di Pasifik Selatan, beberapa penduduk desa menggunakan cara yang aneh dalam menebang pohon. Bila ada pohon yang terlalu besar untuk ditebang dengan menggunakan kapak, orang - orang pribumi menebangnya dengan cara berteriak terhadap pohon itu.

Orang - orang memanjat pohon itu pada hari subuh dan tiba - tiba berteria dengan segala kemampuan mereka. Ini meraka lanjutkan selama 30 hari. Kemudian pohon itu akan mati dan tumbang dengan sendirinya. Menurut mereka, teriakan - teriakan itu telah mematikan roh dari pohon itu. Menurut rakyat desa itu, cara itu selalu berhasil.

Maklum, mereka orang - orang yang masih primitif dan yang perlu dikasihani. Cara - cara dan kebiasaan yang aneh dari penduduk hutan. Beteriak terhadap pohon. Ya Tuhan! Betapa primitifnya. Mereka patut dikasihani bahwa mereka tidak mengenal teknologi modern dan tidak memiliki pemikiran yang berdasarkan ilmu pengetahuan.

Aku?
Aku berteriak kepada isteriku. Dan aq berteriak kepada telepon serta kepada mesin pemotong rumputku. Akupun berteriak kepada TV, kepada koran dan anak - anak kami, aku dikenal orang karena aku sering mengepalkan tinjuku dan berteriak terhadap udara.

Tetanggaku sering berteriak terhadap mobilnya. Dan di musim panas ini aku mendengar ia sepanjang sore hari berteriak terhadap tangganya. Kira sebagai orang - orang kota yang modern dan terpelajar berteriak terhadap lalu lintas, kwitansi - kwitansi, bank dan alat - alat mesin. Yang paling menjadi korban adalah mesin dan kerabat. Aku sendiri tak mengerti. Bukankah mesin - mesin itu barang mati? Bahkan, kadang - kadang tendangan kitapun tidak menolong.

Mungkin, cara  orang - orang di kepulauan Salomons itu toh masuk akal. Berteriak terhadap hal - hal yang hidup akan dapat membunuh jiwa di dalam diri orang lain itu. Potongan kayu dan batu - batu memang dapat mematahkan tulang - tulang mereka, namun kata - kata dapat menghancurkan jiwa mereka. 


=D God bless

Story by : All I Realy Need to Know I Learned in Kindergarten : Uncommon Thoughts on Uncommon Things" Robert Fulgum.

Cerita dan Ilustrasi #1 - DUA LAUTAN

     Di Palestina ada dua lautan. Yang satu mengandung air yang menyegarkan. Oleh karenanya, terdapat banyak ikan di dalamnya. Pohon - pohon merentangkan dahan - dahan di atasnya dan akar - akarnya yang senantiasa haus, mencicipi air yang menyembuhkannya. Sepanjang pantainya anak - anak bermain ketika ia berada di sana. Ia menyayanginya. Ia dapat memandang jauh atas permukaan air yang berwarna perak ketika ia berbicara melalui perumpamaan - perumpamaan. Dan di atas sebuah lereng bukit yang terletak tidak jauh, ia telah memberi makan kepada lima ribu orang.
      Sungai Yordan membuat lautan ini dipenuhi dengan air yang jernih yang datang dari bukit - bukit. Oleh karena itu, Ia merasa gembira dalam cerahnya matahari. Dan manusiapun membangun rumah - rumahnya dekat lautan itu, dan burung - burungpun membangun sarangnya; dan semua makhluk disekitarnya dipenuhi oleh rasa sukacita yang besar karena lautan itu.
      Sungai Yordan menalir terus ke arah Selatan ke dalam suatu lautan yang lain. Di sini tidak terdapat suara ceburan dari ikan, tidak ada suara daun - daun yang berkibar, tidak ada nyanyian anak - anak. 
        Para pelancong memilih jalan lain, kecuali jika memang terpaksa. Udara menggantung dengan berat di atas air, dan tidak ada manusia atau binatang yang mau meminum airnya.
         Apa toh yang membedakan kedua lautan itu? Bukan sungai Yordan. Bukankah ia mengalirkan airnya ke dalam lauran itu? Bukan pula kerena tanahnya di atas mana mereka terletak.
Inilah perbedaannya...
          Lautan Galilea menerima air dari Yordan namun tidak mengambil airnya untuk dirinya sendiri. Untuk setiap tetes air yang ia terima, maka setiap tetes itu pula mengalir keluar. Penerimaan dan pemberian berlanjur dalam jumlah yang sama.
          Lautan Galilea menerima dan memberi. Tapi lautan yang lain sama sekali tidak memberi. Karenanya, ia dinamakan Lautan Mati. Di dalam dunia ada dua jenis manusia seperti juga ada dua lautan di Palestina... =D
Well, jika diandaikan...
Yang manakah diri kita masing - masing dari kedua lautan itu?
Atau...
Mau menjadi lautan yang manakah diantara kedua lautan itu?
=D
God bless
 
Story  by : Gayle D. Erwin

Waktunya untuk Berubah

     Sejak kecil, Joyce berdoa untuk ibunya yang tidak mengenal Tuhan, ia rindu melihat ibunya berubah dari kehidupannya yang tidak baik dan menjadi seorang pengikut Kristus yang saleh. Namun selama bertahun-tahun, sang ibu bukan hanya tidak bertobat, bahkan selalu marah jika Joyce mencoba menasihatinya. Joyce mulai marah dan putus asa. Dia kecewa melihat ibunya tidak mau berubah dari kehidupannya yang tidak baik dan tidak mengenal Tuhan.
     Hingga suatu saat, dalam suatu kesempatan Joyce mendengar seorang hamba Tuhan berkata, "Jika engkau ingin melihat seorang disekitarmu berubah, berdoalah agara Roh Kudus mengubah dirimu lebih dulu." Joyce merenungkan kata-kata itu dengan sungguh-sungguh, dan kemudian mulai berdoa memohon agar Roh Kudus mengubah dirinya sesuai kehendak Tuhan.
     Dia tidak lagi merengek dan memaksakan kehendaknya kepada Tuhan untuk mengubah ibunya, sebaliknya dia berserah pada  Tuhan untuk mengubah dirinya sesuai kehendakNya. Dan Roh Kudus pun bekerja, Joyce merasakan perubahan di dalam hidupnya, dia semakin memgasihi Yesus, dan hubungannya yang memburuk dengan ibunya mulai diperbaiki Tuhan. Sampai suatu saat, ibu Joyce berkata bahwa dia ingin ikut katekisasi dan dibaptis.
     Joyce sangat bersukacita! Sampai sekarang ibu Joyce selalu setia beribadah pada Tuhan.

Apakah ada orang-orang disekitar kalian yang tampak menyebalkan?
Apakah kalian ingin agar mereka diubah oleh Tuhan?
Mulailah memohon Roh Kudus mengubah diri kita lebih dulu. Ijinkan Tuhan sebagai Penjunan membentuk kita sekehendak hatiNya, karena perubahan yang terjadi dalam diri kita, pada gilirannya akan mengubah hidup orang lain juga. =D

Semoga berguna... God bless...

Story by : Pdm. Lany Hariyadi
 

Short Conversation, Nice Lessons


Lebih Baik Memberi

Sepulang sekolah minggu, Dino bertengkar dengan Bono karena berebut mainan. Dino pun memukul Bono. Buru - buru guru sekolah minggunya melerai, dan menegur Dino.

Guru : Kenapa koq Dino memukul teman, sih?

Dino : Bono merebut mainanku.

Guru : Tapi kan ibu sudah ajarkan, kita harus sabar dan tidak baik marah...

Dino : Iya, sih. Tapi ibu kan juga bilang, lebih baik memberi daripada menerima. Makanya Dino memberi pukulan aja daripada menerima pukulan.


TUHAN, Masuk kamar mandi

Dita : Mam, apakah TUHAN suka masuk kamar mandi?

Mama : Ya enggak donk, sayang. Kenapa Dita nanya gitu?

Dita : Habis, tadi pagi waktu Dita mandi, papa mengetuk pintu kamar mandi, lalu katanya, :Ya TUHAN, kamu masih ada di dalam juga?


=D Its's nice to smile everyday, right? hahahaha
God bless

K.R.I.T.I.K

Pada suatu waktu, seorang pemahat terkenal memahat dua buah patung pada saat yang sama. Satu patung dikerjakan secara tertutup di rumahnya, dia mengerahkan segala keahliannya dan rasa seninya untuk mengerjakan patung tersebut sebaik mungkin.
 
Sedan patung kedua dikerjakan secara terbuka di alun-alun kota, dikerjakan dan diperbaiki sesuai kritik, saran, dan pendapat orang-orang yang melihat.
 
Akhirnya kedua patung tersebut selesai dibuat, dan keduanya dipamerkan pada khalayak ramai di gedung serba guna kota itu. Kedua patung diletakkan berdampingan, berselubung kain. 
 
Ketika tiba waktunya pembukaan pameran, kedua selubung pun dibuka, dan . . .
 
satu patung mendapat pujian dan decak kagum, sedangkan patung kedua mendapat kritikan dan celaan. Pemahat tersebut tersenyum, "Saudara - saudara, patung yang anda puji adalah hasil karya saya yang saya kerjakan sendiri di rumah saya; sedangkan patung yang anda kritik habis-habisan adalah hasil dari seluruh kritikan anda yang saya terapkan tanpa membantah."
 
 
=D
Jika saat ini teman-teman diberi pilihan... Dari kisah di atas... 
Patung mana yang akan teman-teman hasilkan dalam hidup kalian???
Apakah kalian akan menghasilkan patung dengan mendengar banyak kritikan dan sudut pandang orang luar???
Atau kalian menutup telinga rapat-rapat dan fokus mengerjakan patung dengan kesungguhan hati dan niat???
 
Kita semua punya pilihan masing-masing...
Tidak ada yang boleh menyalahkan pilihan masing-masing pribadi, bukan?
Tetapi prosesnya lah yang sangat berharga, dan hasilnya yang menentukan...
 
 
Kritik... Point kisah diatas itu bukan?
Tapi teman-teman bisa lihat bagaimana proses pengerjaan kedua patung itu dan hasilnya...
Patung yang dikritik menjadi patung yang mendapat banyak celaan dan hina.. Mengapa?
Karena selama prosesnya patung itu dikerjakan dengan menerapkan krtik yang didapat, tidak fokus dikerjakan untuk menghasilkan karya seni yang sungguh - sungguh dari hati.. 

Itu sama dengan bagaimana kita memilih jalan untuk menghasilkan patung dalam hidup kita masing-masing.. =D

Story by : 100 Renungan populer sepanjang masa, Chandra Suwondo
 
 

Rabu, 26 Desember 2012

Tidak ada yang sia - sia

Seorang nenek, Granny namanya, selalu hidup dalam pengucapan syukur.

Suatu hari, nenek Granny sedang menyambut cucu-cucunya pulang dari sekolah. Mereka adalah anak-anak muda yang sangat cerdas dan sering menggoda dia dengan berkata, "Nek, apakah nenek masih pergi ke gereja pada hari minggu?" "Tentu!"

"Apa yang nenek peroleh dari gereja? Apakah nenek bisa memberitahu kami tentang khotbah pendeta?"
"Nenek tidak ingat. Nenek hanya ingat bahwa ia telah memberi khotbah yang memberi kekuatan, Nenek menyuaki khotbah itu." Tom menggoda, "Apa untungnya pergi ke gereja jika nenek tidak mendapatkan seseuatu dari-Nya?"

Nenek Granny terdiam. Kemudian nenek Granny berdiri dan keluar dari ruangan tempat mereka semua duduk dan berkata, "Anak-anak ayo ikut nenek ke dapur." Ketika mereka tiba di dapur, dia mengambil tas rajutan dan memberikannya kepada Tom sambil berkata, "Bawalah ini ke mata air, dan isilah dengan air, lalu bawa kemari.":

Maka Tom berlari keluar dan dalam beberapa menit ia kembali dengan tas yang meneteskan air. "Lihat, nek." katanya. "Tidak ada air didalamnya."

"Benar," kata nenek. "Tapi lihatlah betapa bersihnya tas itu sekarang."

See guys? :D
Semua tidak ada yang sia-sia jika ada kesungguhan dalam menerima, memberi, dan melihat melalui berbagai sudut pandang.

God bless..


Story by : Pdt. Petrus FS